Sejarah dan waktu.

I. PENDAHULUAN

Seiring dengan perjalanan waktu, kita telah memasuki periode reformasi delapan tahun telah berlalu, yang ditandai dengan lengsernya Presiden RI Bapak Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998. Atmospir politik Indonesia waktu itu, ternyata berpengaruh keberbagai sendi kehidupan yang masih terasa sampai sekarang ini, tidak terkecuali dunia pendidikan. Sangat dirasakan oleh praktisi pendidikan ketika berhadapan dengan subjek didiknya, sering kali guru sejarah kurang mendapat kepercayaan dari siswanya dan masyarakat karena telah terjadi pembengkokan sejarah.

Runtuhnya Rezim Orde baru lahirlah tantangan baru bagi guru sejarah dalam menjalankan tugasnya di sekolah, sejarah sebagai seni dan ilmu telah dipertanyakan keobjektivitasannya. Oleh karena itu, banyak yang menggugat adanya penulisan sejarah. Khususnya kontroversi sejarah G 30 S/PKI, Supersemar. Bagi guru bidang studi sejarah adalah salah satu yang membingungkan karena jika masih menggunakan buku warisan Orde Baru mereka mungkin akan di protes. Akan tetapi bagi guru sejarah waktu itu kesulitan untuk mendapatkan buku edisi baru sebagai referensi objektiv. Fenomena seperti itu adalah merupakan suatu tantangan berat bagi sejarawan akademisi dan pendidik untuk dapat memberikan solusi terbaik untuk membuktikan adanya kebenaran fakta sejarah. Bagi sejarawan bahwa sejarah masih dianggap penting artinya kebenaran fakta sejarah dan juga bagi pendidikan pada umumnya serta pendidikan karakter bangsa. Persoalanya apakah sejarah mempunyai guna edukaif yag sangat berarti bagi bangsa Indonesia, sehingga perlu kita diskusikan untuk meluruskan sejarah Indonesia? Siapa yang harus meluruskann

Seminar pada pagi hari ini masih sangat relevan untuk diselenggarakan oleh BKMS Fakultas Sastra UNEJ yang bertemakan: ”Pelurusan Sejarah Indonesia” sebagai refleksi sosial terhadap pe;ajaran sejarah (sejarah Indonesia).

_____________________

* Makalah disajikan dalm acara “Seminar Pelurusan Sejarah Indonesia” yang diselenggarakan oleh BKMS Fakultas Sastra Universitas Jember pada Tgl. 2 juni 2005.

**Pemakalah adalah dosen Pendidikan Sejarah dan sebagai Ketua Jurusan Pendidikan IPS pada FKIP Universitas Jember.

II. PEMBAHASAN

Berbicara pelurusan sejarah, sebenarnya telah lama diperjuangkan oleh para sejarawan pendahulu yang menggagas historigrafi Indonesia melalui forum seminar nasional indonesia yang pertama tahun 1957 di Yogyakarta. Tentunya juga bertujuan untuk meluruskan sejarah Indonesia yang telah lama dibengkokan oleh Belanda untuk kepentingan politiknya, sebagai contoh dalam Perang Jawa, bahwa Dipenegoro yang sampai sekarang dianggap sebagai Pahlawan Nasional, dulu bagi kepentingan Belanda dianggap sebagai pemberontak. Ini artinya ada guna sejarah yang patut diperjuangkan dengan menggugat sejarah kolonial Belanda, mencari kepastian sejarah Indonesia Centris. Mungkin juga demikian halnya dengan masyarakat sekarang yang mempertanyakan kebenaran peristiwa G 30 S/PKI dan Supersemar yang ditulis dalam buku Sejarah Nasional Indonesia dirasakan mengandung kepentingan tertentu.

Secara teoritis guna sejarah yang dikemukakan oleh IG Widja (1988), yaitu guna edukatif, guna inspiratif, guna rekreatif dan instruktif. Berkaitan dengan aktivitas pendidikan bahwa guna edukatif dari sejarah, yaitu bisa memberikan kearifan dan kebijaksanaan bagi yang mempelajarinya. Sedangkan guna intruktif dari sejarah menunjang bidang studi kejuruan atau untuk pembelajaran sejarah di sekolah. Berkaitan dengan hal tersebut, Taufik Abdulah (1995) mengemukakan pertama, bahwa sejarah sebagai sarana untuk memupuk kesadaran akan lingkungan sosial. Pelajaran sejarah memberikan kesadaran sebagai bagian yang bertanggung jawab dari komunitas sekitar. Perasaan keakraban dengan ligkunga alam dan sosial dipupuk lewat pelajaran sejarah. Kedua memperkenalkan kesadara dimensi waktu dan kesadaran sebagai bagian dari komunitas yang lebih luas. Pada bagian ini pemupukan rasa hayat sejarah. Bahwa segala sesuatu tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui pergumulan dan proses historis. Lebih lanjut Taufik Abdullah mengatakan, sejarah sebagai pertanggungjawaban rasional akan keharusan hidup bermasyarakat. Kedua, sebagai sejarah praktis, yaitu sejarah sebagai kaca perbandingan untuk mengetahui struktur baru dan dunia kini. Ketiga, sejarah pemahaman, yaitu sejarah sebagai alat dan penolong untuk memungkinkan terjadinya dialog yang kreatif dengan pergolakan zaman yang melintas dalam pengalaman hidup.

Dengan demikian sejarah selain bisa menjadi bahan kajian, juga bisa berfungsi sebagai sumber pembelajaran bagi manusia. Belajar dari masa lampau untuk kekinian dan menatap masa depan. Pengajaran sejarah dalam pandangan Kuntowijiyo (1995) untuk SD dengan pendekatan estetis, artinya untuk menanamkan rasa cinta kepada perjuangan, pahlawan, tanah air dan bangsa. Di SMP dengan pendekatan etis, yaitu ditanamkan pengertian bahwa mereka hidup bersama orang, masyarakat dan kebudayaan lain, baik yang dulu (dalam KBK disebut pendekatan kritis). Sepanjang Orde Baru teori kemapanan menjadi dominan, hal itu tercermin pada pelajaran sejarah bisa dikatakan menjadi mapan sehingga materinya tidak banyak berubah. Akan tetapi ketika terjadi reformasi masyarakat menjadi semakin kritis sehingga peristiwa sejarah seperti G 30 S dan Supersemar dipertanyakan kebenaranya oleh masyarakat dan pelajar. Sebenarnya dalam dunia ilmu pengetahuan (sejarah), pengujian kebenaran fakta yang berulang dan perbedaan penafsiran bukanlah suatu hal yang aneh. Pengujian fakta sejarah juga diakukan ketika orang meragukan proses validasi terhadap sumber. Hal tersebut sebagai fenomena sosial bangsa Indonesia yang terkejut dalam mengadapi zaman reformasi yang mempunyai kebebasan dan keterbukaan.

Pemerintah (Depdiknas) telah tanggap terhadap fenomena tersebut dan beban serta kebingungan guru sejarah, dengan menerbitkan Kurikulum 1994 Suplemen GBPP Mata Pelajaran Sejarah ”Pedoman Bahan Ajar Sejarah Bagi Guru Sekolah Menengah (SMU/MA/SMK)”. Namun demikian bukanlah berarti telah mengakhiri atau menyelesaikan masalah yang dihadapi guru, karena masyarakat sudah semakin kritis berani mempertanyakan kebenaran sejarah sebagaimana mestinya. Seharusnya sebagai tindak lanjut yang mesti dilakukan pemerintah, yaitu meningkatkan kualitas guru sejarah bukan saja dalam dalam bidang teknologi pembelajaran. Akan tetapi juga penguasaan materi melalui teknik menggali suber sejarah dan kemampuan merekontruksi peristiwa sejarah, yang kemudian mampu memanfaatkan sebagai bahan ajar. Jadi bahan ajar yang digunakan guru bukan hanya buku paket yang tersedia. Hal itu sebenarnya sudah seharusnya dilakukan oleh sarjana dari LPTK yang memang dicetak sebagai tenaga profesional dan akademisi. Hanya saja tugas guru sejarah semakin tertantang untuk bekerja keras, hal itu mungkin bisa dilakukan apabila ada keseimbangan dengan pendapatanya.

Pekembangan IPTEKS dan arus globalisasi membawa perubahan semua aspek kehidupan manusia, tentu saja sangat diperlukan sumberdaya manusia yang berkualitas, seperti yang diupayakan oleh Depdiknas melalui Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang diberlakukan mulai tahun 2004, menggantikan Kurikulum 1994 yang bersifat sentralistik.

Kondisi yang dihadapi saat ini, prospek serta tantangan masa depan merupakan bagian integral dan proses pengembangan yang telah terjadi sejak masa lalu. Berdasarkan pemahaman bahwa sejarah merupakan ilmu yang mempelajari proses perubahan dan keberlanjutan dalam dimensi waktu, maka pengajaran sejarah disekolah perlu dilaksanakan untuk membangun pemahaman keilmuan berprespektif waktu, memori bersama, dan kesadaran terhadap nilai-nilai bangsa (DEPDIKNAS,2003). Dalam kurikulum tersebut, pembelajaran sejarah menekankan pada aspek prosesual yang berpangkal pada masa kini, karena masa lampau bukan merupakan suatu yang terpisah dari umat manusia, para siswa dan lingkungan sehari-hari. Pengajaran sejarah pada suatu pendidikan analisis prosesual, agar siswa mampu berpikir sendiri mengapa dan bagaimana sesuatu bisa terjadi pada masa lampau.

Berdasarkan reaksi masyarakat terhadap materi sejarah dan upaya Depdiknas untuk merespon dengan menyempurnakan kurikulum adalah sebagai gambaran bahwa sejarah masih mempunyai guna ekdukatif dan intruksional yang masih penting bagi peningkatan sumberdaya manusia serta untuk menjaga integrasi bangsa Indonesia.

Perguruan Tinggi LPTK utamanya (Pendidikan Sejarah FKIP) berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI No 232/U/2000 Tanggal 20 Desember 2000 dan No 045/U/2002 tanggal 2 April 2002, telah menyesuaikan dengan kebutuhan penggunaan lulusannya kendatipun belum terimplementasi secara maksimum dalam proses belajar mengajarnya. Karena masih sangat membutuhkan perangkat pendukung yang memadahi.

Siapa yang harus meluruskan sejarah Indonesia itu? Jika kita renungkan secara mendalam, mestinya para sejarawan mempunyai andil besar ikut dalam menggali sumber dan menguji kebenarannya. Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) sebagai lembaga yang beranggotakan sejarawan profesional dan amatiran serta peminat sejarah. Dalam hal ini termasuk guru bidang studi sejarah juga harus ikut serta meluruskan sejarah Indonesia. Apalagi dengan diberlakukannya KBK, yang menempatkan pelajaran sejarah sebagai ilmu dan bukan sekedar kumpulan fakta yang harus dihafalkan oleh siswanya. Hanya saja celakanya tidak semua guru bidang studi adalah lulusan S1 Pendidikan Sejarah atau ilmu Sejarah, sehingga kurang memahami sejarah bahkan No seence of History. Tenaga pelaksana akademik yang tidak memahami filsafat sejarah nasional Indonesia maka akan sulit untuk ikut serta meluruskan sejarah. Apalagi jika tidak mampu membebaskan diri dari kepentingan interes pada salah satu parpol atau kelompok/golongan tertentu.

Berbicara pelurusan sejarah Indonesia, pada hakikatnya menyangkut masalah metodologi sejarah yang semestinya juga menjadi pegangan untuk menggali sumber sejarah dan menguji kebenaran inforsi dari sumber sejarah yang berupa dokumen maupun sumber insani. Banyak orang mengatakan bahwa sejrah itu subjektif, memang tidak bisa mengelak begitu saja akan tetapi tujuannya untuk mencari kebenaran sejarah mendekati objektif. Karena memori masa lampau itu bukan diperuntukan bagi ilmu sejarah, maka tidak mudah untuk mendapatkannya. Kepentingan politik penguasa akan mempengaruhi sejarah, seperti serangan Umum 1 Maret 1949, begitu terjadi reformasi dalam berita-berita koran Kedaulatan Rakyat juga ada pegakuan/pengkisahan yang membuat siasat/berinisiatif adalah dari Kesultanan Mataram (Hamenku Buono IX). Seperti dokumen Supersemar yang sampai saat ini sulit untuk diperoleh/belum ditemukan yang aslinya. Sulit kiranya untuk meluruskan sejarah jika dokumen yang saqih tidah ditemukan, apalagi mempunyai nilai yuridis yang kuat bagi kepentingan politik. Jalan lain yang bisa ditempuh adalah sumber lisan dari perilaku sejarah atau saksi yang teruji kebenarannya dan mau berbicara secara jujur.

Situasi menjelang peristiwa G 30 S 1965, suhu politik Indonesia memanas karana adanya persaingan antara kekuatan politik. Sedikit tentang seputar G 30 S 1965, yang dikemukakan oleh Anhar Gonggong (2001). Sementara pihak menyatakan bahwa Presiden Soekarno terlibat dalam peristiwa itu. Alasannya Letkol Untung dan anak buah Pasukan Pengawal Presiden Resimen Cakrabirawa. Soekarno ada di Halim Perdakusuma. Sedangkan yang lain, Soekarno ada di Halim Perdanakusuma bukan pertanda dukungan kepada G 30 S/PK. Melainkan sebagai taktik pengawal Kol. Maulwi Saelan: ”Sekitar pukul 10.00 ada pengumuman dari dewan Revolusi yang disampaikan Letkol Untung tentang para Jenderal karena akan melakukan kudeta terhadap Bungkarno”, ”Saya menilai, apa yang dilakukan Untung itu merupakan kup”. Tegas Maulwi Saelan. Kami berkesimpulan, bahwa Bungkarno tidak boleh ada di Halim. Lalu rombongan Bung Karno pun meninggalkan Halim”. Analisisnya menolak tuduhan keterlibatan Soekarno dalam peristiwa tersebut.

Bagaimanapun juga sumber-sumber informasi baik berupa dokumen maupun sumber insani sebaiknya dikumpulkan sebanyak mungkin untuk memberikan jaminan akurasi data sebagai bahan yang dapat dijadikan fakta yang keras. Hanya data-data yang akurat kebenaranya upaya meluruskan sejarah akan mendekati kebenaran yang objektif.

III.PENUTUP

Demikianlah uraian yang dapat saya sampaikan dalam forum ini. Kiranya dapat dipahami bahwa sejarah masih sangat berguna bagi kepentingan bangsa indonesia. Untuk itu upaya pelurusan sejarah Indonesia adalah perlu dilakukan terus menerus dan harus didukung oleh semua pihak. Sekian kami ucapkan terimakasih atas segala perhatiannya, dan mhon maaf dari kekurangan kami baik yang disengaja maupun idak sengaja.Sekian kami ucapkan terimakasih atas segala perhatiannya, dan mhon maaf dari kekurangan kami baik yang disengaja maupun idak sengaja.


DAFTAR PUSTAKA

Anhar Gongong, 2001, ”G.30.S/PKI : Analisis Historis” Makalah Seminar Nasional, Surabaya: Panitia Seminar hari Pahlawan dan Penulisan G.30.S Serta Supersemar, MSI Jawa timur.

Depdiknas, 2000, Kurikulum 1994 Suplemen GBPP Mata Pelajaran Sejarah. Pedoman Bahan Ajar Sejarah Bagi guru Sekolah Menengah (SMU/MA/SMK), Jakrta: Departermen Pendidikan Nasional.

————, 2003, Kurikulum Berbasis Kompetensi. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sejarah SMA dan MA, Jakarta: Departermen Pendidikan Nasional.

Kuntowijoyo, 1995, Pengantar Ilmu Sejarah, Jogjakarta: Bentar Budaya.

Taufik Abdullah, 1995, ”Masalah Ilmu Sejarah dan Pengajaran Sejarah yang Reflektif dan Inisiatif” dalam Pengajaran Sejarah Kumpulan Makalah Simposium, Jakarta: Depdikbud.

Widja. IG, 1988, Semaranga: Satya Wacana.

~ oleh santgreat pada 2009/04/12.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: