Gajah Mada

Gajah Mada

Lukisan Gajah Mada

Gajah Mada adalah salah satu tokoh besar pada zaman kerajaan Majapahit. Menurut berbagai kitab dari zaman Jawa Kuno, ia menjabat sebagai Patih (Menteri Besar), kemudian Mahapatih (Perdana Menteri) yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Ia terkenal dengan sumpahnya, yaitu Sumpah Palapa, yang menyatakan bahwa ia tidak akan memakan palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Di Indonesia pada masa kini, ia dianggap sebagai salah satu pahlawan penting[1] dan merupakan simbol nasionalisme.

Asal usul

Hingga detik ini, belumlah diketahui secara pasti dan meyakinkan tentang asal asli (termasuk tempat kelahiran) Gajah Mada. Masing-masing pendapat memiliki alasan sendiri-sendiri. Di bawah ini diketengahkan beberapa pendapat tentang asal Maha Patih yang legendaris itu.

Dari Pulau Jawa[rujukan?]
Ada yang berpendapat bahwa Gajah Mada adalah putra asli Majapahit (Jawa), tepatnya dari daerah Modo (Lamongan), dimana di daerah ini banyak ditemukan prasasti-prasasti yang diduga kuat peninggalan Majapahit, termasuk adanya beberapa makam kuno prajurit. Selain itu, pendapat ini juga didasarkan pada status Gajah Mada sebagai mahapatih di kerajaan yang terletak di Jawa itu sendiri. Namun, tentunya pendapat terakhir ini amat tidak masuk akal karna sejak dari dulu banyak orang yang bisa sukses seperti menduduki jabatan penting bukan di daerah kelahirannya.
Dari Pulau Sumatra
Pendapat lain meyakini bahwa Gajah Mada berasal dari Pulau Sumatra, karena berdasarkan kajian sejarah beberapa orang historikus, termasuk para historikus Jawa sendiri, meyakini bahwa Maha Patih Majapahit tersebut bukan orang Jawa melainkan orang Melayu. Sebagai contoh menurut Dr. Imran (pakar sejarah), di dalam Bahasa Jawa tidak dikenal istilah Gajah Mada. Kata Gajah dan Mada berasal dari Bahasa Melayu (Minang). Kata Mada artinya berhati keras tidak mau surut sebelum cita-citanya tercapai. Itu tercermin dari sifat Gajah Mada yang dicerminkan pada Sumpah Palapanya”. Ucap beliau.[2]
Dari Dompu – Nusa Tenggara Barat[rujukan?]
Masyarakat Bima khususnya Dompu percaya kalau Gajah Mada berasal dari daerah ini. Ada nama tokoh yang cukup melegenda dalam tradisi masyarakat Dompu. Namanya adalah “ombu Mada Roo Fiko”. Ombu artinya Tuan, Mada artinya saya, Roo artinya telinga dan Fiko artinya lebar. Jadi ditafsirkan sebagi tuan Mada bertelinga lebar seperti gajah. Di sebuah desa di daerah ini juga terdapat kuburan kuno yang diyakini sebagai makam Gajah Mada. Terdapat juga lukisan-lukisan yang dibuat oleh orang Dompu dengan tema Gajah Mada.
Dari Pulau Kalimantan Barat[rujukan?]
Ada pula yang meyakini Gajah Mada itu merupakan orang Dayak, Kalimantan Barat, asal kampungnya bernama Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Masyarakat dayak sendiri sangat banyak mempercayai Gajah Mada sebagai orang Dayak, hal itu berkaitan dengan kisah tutur tinular masyarakat Dayak Tobag, Mali, Simpang dan Dayak Krio. Hanya ada sedikit perubahan nama Gajah Mada di Dayak Krio dikenal dengan nama Jaga Mada, bukan Gajah Mada, namun masyarakat Dayak lainnya menyebutnya Gajah Mada.
Sebutan itu sudah ada sejak lama dan Gajah Mada dianggap salah satu Demung Adat yang ada di wilayah kampung di Kecamatan Toba (saat ini). Gajah Mada dianggap menghilang entah kemana karena pada wilayah tersebut seharunya Demung ada 10 orang karena kampung di wilayah tersebut dulunya ada 10 juga, namun salah satu kampung kehilangan Demungnya. Jadi, Demung itulah yang kemungkinan besar adalah Gajah Mada.
Hal itu sangat kuat dan bisa dibuktikan sebab Kerajaan tertua bukan di Jawa tetapi di Kalimantan sehingga unsur Hindu lebih dulu ada di Kalimantan bukan di Jawa, dan alasan ini sangat masuk akal bahwa pengaruh Hindu di Jawa sangat dipengaruhi oleh kerajaan Kutai di Kalimantan dan kemungkinan Gajah Mada adalah orang kuat yang diutus kerajaan Kutai untuk menjajah Nusantara termasuk Jawa.[3]Awal karir

Menurut Pararaton, ia memulai karirnya di Majapahit sebagai komandan pasukan khusus Bhayangkara. Karena berhasil menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) dan mengatasi Pemberontakan Ra Kuti, ia diangkat sebagai Patih Kahuripan pada tahun 1319. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri.

Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Aryo Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui. Ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang melakukan pemberotakan terhadap Majapahit. Keta dan Sadeng pun akhirnya takluk. Akhirnya, pada tahun 1334, Gajah Mada diangkat secara resmi oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi sebagai Patih Majapahit.

Sumpah Palapa

Sebuah arca yang diduga menggambarkan rupa Gajah Mada. Kini disimpan di museum Trowulan.

Pada waktu pengangkatannya, ia mengucapkan Sumpah Palapa, yang berisi bahwa ia akan menikmati palapa atau rempah-rempah (yang diartikan kenikmatan duniawi) jika telah berhasil menaklukkan Nusantara. Sebagaimana tercatat dalam kitab Pararaton berikut:[4]

Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa
Arti
Gajah Mada sang Mahapatih tak akan menikmati palapa, berkata Gajah Mada, “Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pahang, Dompu, Pulau Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.

Walaupun ada sejumlah (atau bahkan banyak) orang yang meragukan sumpahnya, Patih Gajah Mada memang hampir berhasil menaklukkan Nusantara. Bedahulu (di Bali) dan Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, dan negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra) telah ditaklukkan. Lalu Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kendawangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Di zaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwu, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

Perang Bubat

Arca Gajah Mada.

Dalam Kidung Sunda[5] diceritakan bahwa Perang Bubat (1357) bermula saat Prabu Hayam Wuruk hendak menikahi Dyah Pitaloka putri Sunda sebagai permaisuri. Lamaran Prabu Hayam Wuruk diterima pihak Kerajaan Sunda, dan rombongan besar Kerajaan Sunda datang ke Majapahit untuk melangsungkan pernikahan agung itu. Gajah Mada yang menginginkan Sunda takluk, memaksa menginginkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan pengakuan kekuasaan Majapahit. Akibat penolakan pihak Sunda mengenai hal ini, terjadilah pertempuran tidak seimbang antara pasukan Majapahit dan rombongan Sunda di Bubat; yang saat itu menjadi tempat penginapan rombongan Sunda. Dyah Pitaloka bunuh diri setelah ayahanda dan seluruh rombongannya gugur dalam pertempuran. Akibat peristiwa itu, Patih Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya.

Dalam Nagarakretagama diceritakan hal yang sedikit berbeda. Dikatakan bahwa Hayam Wuruk sangat menghargai Gajah Mada sebagai Mahamantri Agung yang wira, bijaksana, serta setia berbakti kepada negara. Sang raja menganugerahkan dukuh “Madakaripura” yang berpemandangan indah di Tongas, Probolinggo, kepada Gajah Mada. Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa pada 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih; hanya saja ia memerintah dari Madakaripura.

Akhir hidup

Disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama bahwa sekembalinya Hayam Wuruk dari upacara keagamaan di Simping, ia menjumpai bahwa Gajah Mada telah sakit. Gajah Mada disebutkan meninggal dunia pada tahun 1286 Saka atau 1364 Masehi.

Hayam Wuruk kemudian memilih enam Mahamantri Agung, untuk selanjutnya membantunya dalam menyelenggarakan segala urusan negara.

Catatan kaki

  1. ^ Memory of Majapahit: Gajah Mada
  2. ^ Diduga Makam Gajah Mada
  3. ^ Tony Kusmiran, 30 Oktober 30 2008
  4. ^ Mangkudimedja, R.M., 1979, Serat Pararaton. Alih aksara dan alih bahasa Hardjana HP. Jakarta: Departemen P dan K, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.
  5. ^ Berg, C.C. 1927. Kidung Sunda. Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen. ‘s Grav., BKI.

About these ads

~ oleh santgreat pada 2009/04/11.

Satu Tanggapan to “Gajah Mada”

  1. Alasan mengapa Gajah Mada digambarkan dengan sosok yang sedemikian ( bak seekor gajah) karena hingga saat ini tidak diketemukan suatu bukti- bukti yang mengacu pada apa yang anda beritakan. Di dalam kitab Negara Kertagama juga tidak didapatkan suatu bukti bagaimana perawakan dari Gajah Mada itu sendiri dan juga dari pelbagai Artefak- artefak yang sesuai.Meskipun demikian, Gajah Mada digambarkan sebagai salah satu dewa perang, Ganesha. mungkin penggambaran akan pahlawan- pahlawan, khususnya di tanah Air ini, merupakan suatu wujud dari rasa cinta dan bakti masyarakat terhadap pahlawan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: